That a Hero Lies In You !

Image

Dengan sangat tiba-tiba, mimpi – mimpi itu kembali menemukan aku untuk kemudian merasa gelisah karena aku mulai terbaring melemah ditembakki peluru putus asa. Aku merasa harus terbangun saat bayangan-bayangan itu terproyeksi pada layar kelopak dalam mataku yang tertutup.

Dalam deretan panjang sebuah perjalanan waktu, aku bisa melihat jelas keberadaan mereka disekitarku. anak-anak yang masih segar harap dan mimpi, masih mampu berlari mengelilingi dunia dengan kaki-kaki kecil mereka, dengan hati yang masih murni dari jelaga dan serak debu. Aku memandang mereka yang mengelilingiku dengan mata yang berbinar bagai oase padang pasir, senyum mereka yang merekah bagai bunga pada kemarau, serta kicau mereka yang seakan selalu haus untuk mendapat segelas sirup ilmu. Dapat kurasakan aku menyentuh kepala mereka satu persatu, dan mereka menghindar malu-malu. 

Sebelum sempat aku berdoa untuk tetap ada di tempat itu, aku terjaga.

Pernahkah kamu merindukan suatu masa yang belum kamu hadapi sebelumnya ?

Pernahkah kamu merindukan sebuah impian yang belum mampu kamu wujudkan dan pada akhirnya kamu merasa ragu untuk mewujudkannya ?

Pernahkah kamu merasa putus asa karena kasih sayang dan jiwa tulus saja tidak cukup untuk mewujudkan apa yang kamu harapkan ?

………

Dalam arsip yang kutoreh di setiap titik garis umurku, aku merafal harap. Sederhana. Dan mungkin bisa jadi terlalu ideal untuk menjadi sebuah kenyataan. 

Sebuah sekolah, 

Alam bebas,

Anak-anak yang memiliki kemerdekaan berimajinasi dan mewujudkan keinginan mereka.

Anak-anak yang rendah hati dan memiliki impian besar.

Aku mendatangi mereka yang bergelut dengan kumal dan tangis terpendam. Mereka yang memikul berat beban pada pundak mereka yang rapuh, mereka yang ketar-ketir menjadi pekerja bagi perut mereka, mereka yang senantiasa merasa cemas dan takut diburu waktu. Kemudian aku akan mendatangi mereka dan mengangkat pikulan mereka, mengambil cemas dan takut mereka, memisahkan mereka dari kehidupan yang sama sekali tidak akan pernah jadi dambaan setiap insan.

Aku membawa mereka ke sebuah negeri dimana hanya ada senyuman dan keceriaan. Ke sebuah tempat dimana mereka bisa dengan bebas mengekspresikan harap, angan, asa, mimpi dan ingin mereka. 

Aku mengajar mereka dalam naungan alam. Membimbing mereka, membantu mereka meretas mimpi mereka. Membekali mereka satu persatu dengan senjata untuk berperang di masa mendatang. 

Aku membuka mata dengan kenyataan yang menganga di depan mata. Aku tersenyum mengejek diri sendiri dan berucap lirih “How can ?”

sudah hampir 2 dasawarsa aku berkeliaran di bumi manusia ini, tapi sampai sekarang aku belum meraih satu hal pun yang bisa menjadi jembatan, yang kemudian mendekatkanku pada bayangan-bayangan mimpi tadi. Bukan perkara mudah mewujudkannya. Hidup masa kini adalah hidup yang mempertanyakan bagaimana caranya meraup kertas-kertas bernilai. sementara aku belum bisa menghasilkan lembar-lembar alat tukar itu sendiri, sudah berani-beraninya aku bermimpi mengenyahkannya dengan memikirkan membangun sekolah non biaya. Hahahaha menggelikan.

Kalaupun mau mewujudkannya, aku harus siap hidup dengan kerja keras setiap waktunya. Sedikitnya, mungkin aku harus jadi seorang milliarder terlebih dulu. Berpikir tentang menjadi milliarder, tentunya bukan berharap akan ada hujan uang, tapi berpikir mengenai profesi. Profesi apa yang bisa aku tekuni di masa depan yang bisa menjadikan aku seorang konglo ? Sementara, jangankan menjadi seorang konglo, profesi pun aku belum terpikir akan menjadi apa. Where’s my passion ? rasa-rasanya aku menjadi sedikit lembek dan ingin…..menangis hahahahhaha.

…………………..

Kursor berkedip-kedip, aku terdiam menatap layar. Dalam sunyi diamku, hati nurani angkat bicara. Kira-kira seperti ini :

“Sebentar,sebentar, jika putus asa terus apa ? mau berhenti saja ? menyudahi semua mimpi secara paksa ? oke silahkan saja. Itu pilihanmu Tan !. Tapi dengan keputusasaanmu itu, apakah hatimu akan bergerak ke tempat yang damai ? tentu tidak.

Impianmu mungkin akan membuatmu gelisah sepanjang waktu, membuatmu risau dan takut sepanjang waktu karena kemungkinan terburuk adalah kamu tidak bisa mewujudkannya. Tapi jika kamu berhenti, menyerah dan putus asa bagaimana ? kamu juga akan merasa gelisah, karena mimpi itu sudah terlanjur menjalar pada urat-urat kehidupanmu, dalam hatimu, dalam memorimu. Lebih memilih yang mana ? gelisah yang akan memacumu untuk senantiasa berusaha, atau gelisah yang perlahan akan menjatuhkanmu dengan berbagai celaan dan penyesalah ? tinggal pilih.

Satu lagi, ingat ini…jika sang pemimpi cukup berani untuk bermimpi, kenapa ia tidak cukup berani untuk menjadi pewujud mimpi? Selama ada niat baik, disitu pasti ada jalan. Kamu masih punya tuhan…kan ?”

 

keputusasaanku dibawa berputar 180′. aku berubah pikiran. Niat baik dan jiwa yang tulus adalah pondasi utama yang bisa aku percaya untuk mewujudkan semua mimpi-mimpi itu. Aku belum berbuat apa-apa dan harus mulai berbuat apa-apa.

Aku merasa anak-anak masa depan itu cemberut  menatapi aku yang sedang memeluk lutut.

Tapi aku perlahan melepaskan tangan, mencoba berdiri, berpijak kokoh di atas bumi.Mereka tersenyum kembali.

Dan jika suatu saat aku jatuh tersungkur, aku percaya salah satu dari mereka akan mengulurkan tangan dan membantuku bangkit. Demi impianku, demi impian mereka, demi impian kita.

    “..And then a hero comes along
    With the strength to carry on
    And you cast your fears aside
    And you know you can survive
    So when you feel like hope is gone
    Look inside you and be strong
    And then you’ll finally see the truth
    That a hero lies in you…” Mariah Carey_Hero

 

 

 

 

 

Advertisements

Character, Tell Me Where I Must Meet You

Image

Ceritanya kemarin saya bermalam di sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa JUMPA Unpas, setelah se-sore an wiskul bareng Mutia, Dwi, Eriel dan Teh Lisa. Dan semalaman kemarin saya mendapatkan pelajaran dan pemaknaan yang begitu berharga mengenai karakter dari Teh Lisa dan Pak Ketum. Orang-orang yang sukses, tokoh-tokoh terkenal adalah orang-orang yang memiliki karakter kuat. Mereka adalah orang-orang yang bersetia dengan impian terbesarnya, tidak peduli seberat apapun rintangan yang dihadapi, sebanyak apapun mengalami kegagalan, dan tidak mempedulikan pendapat orang lain yang dapat meruntuhkan kekukuhannya. Mereka adalah orang – orang yang mengendarai motor tanpa rem, maju terussss.

Sebagai perempuan yang sudah cukup berumur, saya merasa belum bisa menemui karakter pada diri saya. Saya masih amat sangat blah-bloh, bringka bringdi, belum memiliki prinsip dan keyakinan yang kuat terhadap diri sendiri. Malah, saya seringkali melakukan hal-hal yang bertentangan dengan apa yang saya yakini benar hanya karena takut melukai perasaan orang lain, atau takut dibenci, takut dijauhi dan hal itu dilakukan semata-mata untuk menyenangkan hati orang lain. Sementara kita sebagai manusia, sebenarnya mustahil mengambil suatu keputusan yang menyenangkan semua orang. Pasti ada beberapa persen orang yang bertentangan dengan kita, yang tidak setuju dan menyukai apa yang kita putuskan. Tapi toh ya namanya juga resiko, jangan ambil pusing…cukup fokus pada apa yang telah kita putuskan dan jangan pernah pelihara kecemasan kita akan pendapat orang lain. Wuuuuuuus, berlari saja menyaingi angin.

Saya rindu menjadi sebenar-benarnya diri saya…

saya rindu mempertahankan prinsip dan keyakinan saya…

saya rindu menjadi orang yang tidak terpengaruh oleh hal-hal diluar diri saya

sebentar…rindu? Ya, rindu sesuatu yang belum pernah saya coba.

Mulai hari ini saya akan berhenti bersikap bodoh. 

FIGHTING !!!

Jatuh Cinta Pada Mereka Yang Sederhana

Beberapa minggu yang lalu, saya diajak kak Yuda ke sebuah tempat (yang katanya) tempaat mainnya sewaktu kecil di dekat rumahnya. Tepatnya di daerah Arjasari,Kabupaten Bandung.

Tempat itu masih sangat asri, masih banyak pepohonan, perkebunan dan lahan kosong untuk bermain. Kami berjalan di atas tanah merah yang baru saja tersiram hujan. Alhasil sandal crocs KW kesayangan saya yang sudah rangsak itu, menjadi semakin rangsak.

Sampailah kami di sebuah tanah kosong yang bisa saja disebut lapangan bola kalau tanahnya ditanami rumput dan ada dua buah gawang di sisi yang saling berseberangan. Disana saya bisa melihat segerombol anak kecil sedang berlarian kesana – kemari. ada yang masih memakai kaos, tapi ada juga yang lebih memilih menanggalkan kaosnya. Rupa-rupanya mereka sedang mengejar-ngejar bola plastik yang (mungkin tadinya) berwarna putih. Saya memilih untuk berhenti berjalan dan melihat permainan mereka.  Dan Kak yuda sebagai tour guide saya nurut saja. hehe.

Tiba-tiba muncul semacam perasaan senang dan nyaman. Ini dia, bahagia itu sederhana. Berlarian tanpa beban, saling berebut bola, saling senggol, terjatuh, kemudian bangkit dan tertawa-tawa. Polos dan suci, tiada dendam, tiada keluhan. Indah hidup ini. damai seketika menyeruak, dan saya tidak bisa berhenti tersenyum. hehehe

Oh iya, saya sempat mengabadikan momen-momen tersebut. Ini dia hasilnya..

Image

Image

Image

ImageImageImageImage

Pukul 3 sore hari
Di jalan yang belum jadi
Aku melihat anak-anak kecil
Telanjang dada telanjang kaki
Asik mengejar bola

Kuhampiri kudekati
Lalu duduk di tanah yang lebih tinggi
Agar lebih jelas lihat dan rasakan
Semangat mereka keringat mereka
Dalam memenangkan pernainan
___Iwan Fals (Mereka Ada di Jalan)

Aduh, tiba-tiba saya rindu masa kecil…

 

Iwan Fals_22 Januari

 
22 Januari kita berjanji
Coba saling mengerti apa didalam hati
22 Januari tidak sendiri
Aku berteman iblis yang baik hati
Jalan berdampingan
Tak pernah ada tujuan
Membelah malam
Mendung yang selalu datang
Ku dekap erat
Ku pandang senyummu
Dengan sorot mata
Yang keduanya buta
Lalu kubisikan sebaris kata-kata
Putus asa….sebentar lagi hujan
dua buku teori kau pinjamkan aku
Tebal tidak berdebu kubaca slalu
empat lembar fotomu dalam lemari kayu
kupandang dan kujaga sampai kita jemu
Ini dia lagu yang paling saya suka..
Indah, sederhana dan enak didengar . Entahlah apa makna sebenarnya dari lagu ini. Bang Iwan terlalu pandai bermain kata-kata siratan sehingga saya tidak terlalu berani mengartikannya hehe.
Setiap mendengarkan lagu ini saya jadi ingat sebuah tempat yang entah dimana. Entah saya pernah berada disana atau tidak.
Saya teringat sebuah suasana sehabis hujan pada sore hari menjelang magrib, dimana langit masih sembab dan jalanan basah.
Saya teringat sebuah keadaan yang menyenangkan yang entah kapan saya mengalaminya.hehe. 🙂
Terkadang saya ingin menjadi bagian cerita dari lagu ini,
masuk ke dalamnya dan tidak pernah keluar lagi….
kudekap erat, kupandang senyummu dengan sorot mata yang keduanya buta

Trip to Blanakan Part 2

“Jacky ! Jacky ! Jacky !” ayahnya, eh pawangnya Jacky memanggil Jacky sebanyak 3 kali sambil menggebuk-gebukkan tongkat ke air.Image

satu titik titik..dua titik titik…tiga…….wurrrr seketika air kolam bergeriak, muncul ombak besar, dan tiba-tiba terjadi tsunami ringan. Tak lama kemudian  muncullah sesosok buaya rupawan dari negeri Balong Hejo. Dengan gagahnya Ia menyambar daratan sembari berkata “Ada apa gerangan ayahanda memanggil saya?”

Image

“Ini waktunya makan siang Jack !”. Ungkap Ayah Pawang mantap, sembari menjinjing seekor itik tak berdosa di tangannya.

Image

“A Jacky aaa…” dan Jacky pun nganga, “aaaaaa….”

Image

Jacky adalah buaya sang keren. Sangat keren. Maka dari itu, saya tidak ingin melewatkan moment untuk berfoto bersamanya. Tapi, aduh Jack, pose mu itu loh, ngga kobe banget. Tapi ga apa-apa lah. Mungkin Jacky ngerasa keren. Dia ngerasa nganga adalah pose andalannya.

Dalam hati Jacky mungkin saja berkata : “Emangnya situ kobe ? itu wajah udah kaya wajan bekas ngagoreng gehu terus dibanjur sama air. Hi to the nyay. HINYAY !”
Image

Trip to Blanakan Part 1

Sekitar akhir Nopember tahun lalu, saya ada praktik lapangan fotografi ke daerah Blanakan, Subang. Disana itu semacam pelabuhan mungkin ya, dimana bau amis cetar membahana masuk keluar hidung. Disana kita disuruh ngambil beberapa objek foto, mulai dari suasana pelabuhan, kapal-kapal, orang yang lagi ngebenerin kapal, suasana pelelangan, dan yang paling favorit ini nih…ketemu si Jacky di tempat penangkaran buaya. FYI, Jacky itu buaya ! mangkannya jangan ngeces dulu dong kalau denger nama bule hehe :p

Ini dia nih beberapa fotonya, selamat menikmati….

Image

si emangnya ngga mau eksis, nunduk mulu

Image

ngecek kondisi muka lewat kamera, ternyata berminyak ! tapi masih aman.Image

ini nih yang baunya cetar membahana kemana -mana

Image

nah setelah puas di daerah pelabuhan, kita lanjut ke rumah Jacky…

tapi….bersambung dulu deh ada bunyi yang tidak saya sukai nomor 3. Yakni bunyi perut kelaparan…

ini harus segera diatasi ! demi kedamaian dan kemakmuran bumi manusia !

Everyone say ‘Happy New Year’, I say ‘fiuh’

Image

Selamat Pagi ! Waktu menunjukkan pukul 10:16. Kondisi di luar cerah, aman dan terkendali. Pasalnya sudah tidak terdengar lagi 3 bunyi yang paling saya tidak sukai 

1. Bunyi petasan & kembang api yang hebohnya melebihi perang dunia ke-2

2. Bunyi terompet yang lebih mirip kentut gajah karena keseringan ditiup

3. Bunyi perut lapar alias keroncongan, ini nih yang paling bikin ngeri

Alhamdulillah, malam tahun baru sudah lewat. 

Alhamdulillah… (tarik nafas panjang)

Tadi malam, walaupun tidak diberitau saya juga tau manusia Indonesia berpesta! berpesta ! ada yang konvoi sana-sini, bakar ini-itu, ajrug-ajrugan, heboh-hebohan…dan entah kenapa saya merasa tahun baru 2013 ini meriah sekali. Saya merenung selama 3 jam memikirkan hal ini. Oh, mungkin karena ada faktor pendukung yakni ‘kiamat tidak jadi’. Isu kiamat 2012 terbantahkan dengan masih berkeliarannya mereka di awal tahun 2013, dengan masih mampunya mereka meniup terompet dan membakar mercon Oh my ! 

Ada seorang rekan yang bertanya

“Tan, kok kamu sinis banget sih sama sesuatu yang bentuknya perayaan…hello tan, ini kan tahun baru, sah – sah aja dong orang mau jingkrak-jingkrak mau kayang mau jungkir balik juga. Kita kan mau menyambut hari yang baru gitu lohhhhhh”

Saya hanya memasang wajah (-_-). bukan, itu bukan wajah bete. Itu wajah ngalindur. Saya yang baru bangun tidur menguap sambil mengusek-ngusek mata. Setelah puas muliyat beberapa menit baru saya jawab.

Bukan sinis neng, saya kesel karena setiap perayaan, acara saya selalu saja tidak bisa saling mendukung dengan acara orang lain…tidak seiring, seiya, sekata dan seirama”

“Ah maneh mah ! paling ge acarana sare ! huuuuu !” (Ah kamu itu ! paling acara kamu itu tidur ! huuu)

Dia langsung ngadegungkeun (ngejedotin) kepala saya, terus manyun deh. 

saya pura-pura ga ngeuh dan berlalu…

 

Sebenarnya saya bukan ngga mau berbagi ceria bersama,saya juga mau atuh. Tapi ngga punya temen dan ngga pernah diajakin :(. Eh…bukan…bukan….bukan itu alasannya. Karena saya orang udik yang kepalang cinta mati sama kesederhanaan. Saya ngga terbiasa mengikuti sebuah perayaan dengan agenda khusus. Ya palingan beli makanan agak banyakan dari hari biasanya, terus nonton acara tv yang biasanya suka bagus kalau lagi libur nasional, atau ngga tidur aja. Paling banter dan kerenan dikit ya nulis kaya gini. atau ngga, kalau lagi agak lebih kerenan,saya lebih suka baca buku gitu lah. 

Malam kemarin, saya memlihi untuk tidur. Yang pertama karena ngantuk, yang kedua karena mendadak pengen oek karena kekenyangan. Suka aneh, ini fenomena yang sulit dijelaskan secara ilmiah (halah). Kenapa tiap mau pergantian tahun saya selalu sakit ? tahun kemarin sakit perut, tahun kemarin kemarinnya lagi flu tiada tara. tahun kemarin kemarin kemarinnya lagi sakit kepala. Tiap mau tahun baru pokoknya. saya jadi curiga kalau saya sebenarnya bukan manusia biasa, tapi manusia dari masa depan yang harus mengulang tahun – tahun yang manusia biasa anggap sebagai tahun baru, tapi tidak baginya (apa hubungannya coba ?)

Walah….sebentar sebentar….

ini tulisan kalau lewat proses editing pasti saya sudah dicerca habis-habisan sama editornya

clok sana, clok sini.Ngga fokus sama kaya yang nulisnya :p

Tapi bodo ah ! blog saya ini…hehe 

 

Happy new year everyone ! Your day has come, so make it yours !

Happy new you Intan ! 

 

Bahagia itu sederhana…

*Di kala masih belum mandi